Thursday, May 4, 2017

Bukit mojo di mangunan

Bukit Mojo, mungkin namanya masih asing terdengar dan belum seterkenal Mangunan ataupun bukit Panguk yang akhir akhir ini mulai ngehits. Tapi pemandangan disini tak kalah indahnya lho. Bukit Mojo ini baru diresmikan sekitar tanggal 24 Juli 2016 lalu, jadi memang ini masih tergolong tempat baru. Tempat wisata ini dikelola bersama oleh warga sekitar. Senangnya sekarang banyak bermunculan tempat wisata sehingga bisa membantu sedikit perekonomian warga sekitarnya juga. Pemandangan yang ditawarkan disini adalah Sungai awan yang khas daerah mangunan dan pemandangan alam bukit bukit hijaunya. Selain itu kita bisa juga menikmati sunrise bila beruntung.
Bukit Mojo ini terletak di Gumelem, Mangunan, Dlingo, Bantul. Rute untuk sampai ke bukit Mojo ini hampir sama kalau mau ke arah Bukit Panguk, jalannya masih searah tapi nanti ada pertigaan tanda arah kalau ke kiri ke bukit Panguk, kita ambil jalan ke kanan ke arah bukit Mojo. Dari sini kurang lebih 1 km masuk melewati jalan desa dan ikuti petunjuk arah yang ada hingga nanti sampai ke bukit Mojo ini. Sebagian jalan ada yang masih berbatu dan rusak, jadi perlu hati-hati yaa, pastikan kendaraanya dalam kondisi baik, kalau bannya bocor disini susah cari tambal ban soalnya 
Rute dari Jogja : Terminal Giwangan – Jalan imogiri Timur – belok kiri dipertigaan imogiri – pertigaan belok kanan ke arah Mangunan – lurus ikuti jalan – Tugu Mangunan belok kanan ke arah kebun buah Mangunan – kalau ke kanan ke kebun buah, maka belok kiri (lurus) – SD Kanigoro -belok kanan – belok kiri – pertigaan arah panguk & Mojo, kita ambil kanan – ikuti jalan – Bukit Mojo. 





Di bukit Mojo ini disediakan tiga anjungan/gardu pandang kecil yang tersebar di barat, tengah dan timur bukit. Karena ukurannya kecil jadi perlu hati-hati ya, jangan kelebihan beban. Pemandangan dari ketiga anjungan juga sedikit berbeda. Anjungan yang sebelah barat kita bisa melihat jelas sungai Oyo dan bukit sekitarnya. Anjungan tengah ini ada pohon disisi kanan kirinya jadi lebih menarik untuk foto :p. Kalau anjungan sebelah timur ini terbuat dari pagar bambu dan lantainya dari batu, jadi berbeda dari dua anjungan lain yang terbuat dari kayu. Selain anjungan disini juga disediakan gubuk-gubuk untuk beristirahat dan menikmati pemandangan sekitar. Sayang waktu kami kesini suasananya mendung, jadi kami tidak bisa menimati pemandangan cantik ini secara maksimal.

bukit pangguk kediwung

Bukit Pangguk Kediwung, Dlingo, Bantul – Tidak hanya mempunyai beberapa objek wisata seperti, Sri Tanjung, Curug Lepo, Puncak Becici, dan Kebun Buah Mangunan yang berada pada daerah Kabupaten Bantul. Di Kabupaten tersebut juga terdapat tempat wisata lainnya, yaitu yang dikenal dengan nama Bukit Pangguk,Kediwung yang merupakan tempat wisata yang populer saat ini. Hal ini disebabkan karena tempat wisata yang satu ini memang sangat menarik untuk dikunjungi para penelusur alam. Yang membuat tempat wisata ini menjadi lebih menarik ialah, tempat ini terlihat seperti Punthuk Mongkrong yang ada di kota Magelang atau Bukit Sendaren yang ada di kota Purbalingga. Kediwung, Dlingo, Bantul ini menyuguhkan berbagai macam pemandangan alam yang sejuk dan asri, sehingga memang menjadi salah satu tempat wisata alam yang layak sekaligus yang direkomendasikan untuk didatangi.


Tempat wisata yang terletak di bibir bukit ini sangatlah eksotis, selain itu juga terdapat pemandangan yang menyajikan keindahan alam yang asri. Keindahan dan daya tarik buat tersebut sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai latar belakang fotografi. Alasan mendasar yang membuat tempat ini semakin terlihat indah dan begitu menarik, karena di bukit ini para wisatawan dapat melihat pemandangan alam berupa hamparan pegunungan yang luas dan panorama langit biru yang amat menyejukkan jiwa pengunjung.

Di tempat ini sudah terdapat fasilitas berupa gardu pandang yang mengarah ke bibir tebing sehingga pengunjung dapat berpose selfie dengan angel yang diinginkan. Jika, ingin menikmati pemandangannya secara keseluruhan disarankan untuk datang lebih pagi, karena di tempat ini telah menyediakan kejutan panorama alam yang membuat wisatawan merasakan takjub akan keindahan alam berupa selimut kabut yang dapat dilihat dari Gardu Pandang yang sudah disediakan.





Untuk menuju ke tepat wisata Bukit Pangguk Kediwung, akses jalannya dapat dimulai dengan mengikuti arah menuju Hutan Pinus atau Kebun Buah Mangunan. Dari arah Jogja bisa ambil jalur ke Imogiri, lalu mengarah ke tempat wilayah Dlingo, dimana terdapat Kebun Buah Mangunan berada. Jika wisatawan sudah sampai disekitar Kebun Buah Mangunan, agar tidak tersesat bertanyalah kepada warga setempat untuk mengetahui arah selanjutnya. Perlu juga untuk diingat bahwa akses jalan menuju tempat wisata Kediwung, Dlingo, Bantul cukup ekstrim atau membahayakan. Oleh karena itu, saat ingin menempuh perjalanan ke tempat wisata ini pastikan kondisi kendaraan anda prima begitu pula dengan kondisi fisik anda.

Belum diwajibkan untuk membayar tiket masuk di tempat ini, namun jika ingin membantu proses pembangunan tempt wisata para wisatawan bisa membayar seikhlasnya. Akan tetapi, di tempat wisata ini para wisatawan tetap harus membayar parkir kendaraan, sekitar Rp. 2.000,- untuk sepeda motor dan sekitar Rp. 5000,- untuk mobil. Kendati demikian di tempat wisata ini sudah disediakan warung makan dan gazebo sebagai tempat untuk beristirahat.

Jalan malioboro

Dalan Malioboro adalah nama salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.
Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X nama dua ruas jalan Malioboro dikembalikan ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi jalan Margo Utomo, dan Jalan Jenderal Achmad Yani menjadi jalan Margo Mulyo.[1]
Terdapat beberapa objek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu YogyakartaStasiun TuguGedung AgungPasar BeringharjoBenteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.
Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg Jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening artpantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.




Hutan Mangrove

Rute menuju Hutan Mangrove Pantai Congot - Jogja memang menjadi magnet wisata yang tiada duanya, sebab daerah istimewa ini selalu saja memunculkan wisata wisata baru yang sangat asik untuk dikunjungi. Salah satu daerah yang kini makin bersolek dan terlihat potensi wisatanya adalah Kulon Progo, jika selama ini hanya terkenal dengan Pantai Glagah Indah dan Pantai Trisik, ternyata di sebelah baratnya ada sebuah wisata baru yang sangat eksotis yaitu Hutan Mangrove Pantai Congot. Yups, sesuai dengan namanya, wisata ini memang menyajikan keindahan alam berupa hutan mangrove atau hutan bakau. 

Setelah ditelisik ternyata, lokasi Hutan Mangrove Kulon Progo bukan berada di daerah Pantai Congot melainkan sudah masuk Pasir Mendit Kecamatan Temon Kulon Progo, hal itulah yang membuat perjalanan pertama kami cukup kecewa karena sewaktu ke Pantai Congot lha kok tidak ada bakaunya, yang ada adalah pantai landai pasir hitam dan sedikit pohon cemara.

Hutan Mangrove memang bukan satu satunya di Jogja namun merupakan satu satunya yang dibuka untuk akses wisata dan menyuguhkan sesuatu yang berbeda karena jarang sekali ditemui di pesisir selatan. Luasnya memang belum terlalu luas. Meski demikian kita akan terpuaskan dengan panorama pemandangan alamnya yang jarang kita temui di pantai. Keindahan Hutan Mangrove ini ada di sepanjang tepian dengan jembatan bambu yang memanjang ditepinya, dan juga menelusup kedalam khas obyek wisata Hutan Mangrove. 



titik 0 km jogja

Titik Nol Kilometer merupakan tempat dimulainya segala kisah tentang Jogja. Di persimpangan ini kamu bisa melihat Jogja secara utuh. Jogja yang semrawut namun syahdu, Jogja yang modern namun tetap mempertahanan lokalitas, Jogja yang mencipta kelu juga rindu.
Goresan cahaya terpancar dari bangunan megah bergaya Eropa lama yang terletak di persimpangan Jl. Ahmad Dahlan Yogyakarta kala senja. Bangunan tersebut begitu klasik meskipun telah mengalami revitalisasi, tetapi sama sekali tak menghilangkan sejarah yang tersimpan dari bangunan yang menjadi icon kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Di sekitarnya juga tampak bangunan kuno lainnya yang membuat kita seperti berada di Eropa beberapa tahun silam
Titik Nol Kilometer menjadi tempat wajib bagi kamu yang memilih menghabiskan liburan di Yogyakarta. Berada tepat di jantung kota Jogja, kawasan ini selalu ramai dilewati orang setiap harinya. Mulai dari subuh, pagi, siang, malam, hingga dini hari. Titik Nol Kilometer adalah denyut nadi Jogja.
Mengunjungi Titik Nol Kilometer akan membawamu ke Yogyakarta di masa lalu. Pasalnya kawasan di sekitar Titik Nol Kilometer merupakan kawasan penting pada masa lalu hingga kini. Di perempatan ini terdapat bagunan-bangunan bergaya art deco yang menjadi landmark, sebut saja gedung Bank Indonesia, Gedung Bank Indonesia, dan Gedung Kantor Pos Besar.
Tepat di depan gedung Kantor Pos Besar, kamu akan menemukan Monumen Serangan 1 Maret yang saat ini kerap digunakan sebagai tempat pergelaran seni dan budaya. Di belakang Monumen Serangan Umum 1 Maret terdapat Museum Benteng Vredenburg yan berdiri dengan gagah. Sedangkan di seberang Benteng ada Istana Kepresidenan Gedung Agung.
Sebelum difungsikan sebagai istana kepresidenan, Gedung Agung merupakan kantor sekaligus tempat tinggal Residen Belanda. Bangunan megah ini pun sempat berpindah tangan ke pemerintahan Jepang, sebelum akhirnya diambil alih oleh Indonesia dan dijadikan istana kepresidenan. Hingga sekarang, jika presiden RI ada kunjungan kerja di Yogyakarta maka beliau akan tinggal di Gedung Agung.
Selain dikelilingi bangunan-bangunan indis yang megah, di kawasan Titik Nol Kilometer juga terdapat area hijau dengan pepohonan yang rindang serta bangku-bangku taman yang unik. Aneka instalasi seni yang dipasang di kawasan Titik Nol Kilometer ini menjadikan suasana semakin semarak. Saat senja menjelang, kawasan ini akan dipenuhi oleh muda-mudi dan warga yang menikmati suasana Jogja. Pemusik dan penyanyi jalanan siap menghiburmu tatkala malam tiba. Sembari bersantai, kamu pun bisa menikmati aneka penganan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima.



kebun teh nglinggo kulonprogo

Sejarah Desa Wisata Nglingo tak bisa dipisahkan dari kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro ketika perang melawan Belanda bersama pasukannya di Perbukitan Menoreh. Menurut cerita turun temurun yang dipercaya masyarakat setempat, dahulu ada tiga orang prajurit pengikut Pangeran Diponegoro yang menyusun strategi tak jauh dari kawasan Desa Nglinggo. Tiga prajurit tersebut adalah Ki Linggo Manik, Ki Dalem Tanu, dan Ki Gagak Roban. Untuk mengenang para prajurit tersebut, akhirnya nama Ki Linggo Manik yang dianggap sebagai pemimpin, diabadikan menjadi nama sebuah desa yang kini telah menjelma menjadi kawasan wisata dengan pemandangan menawan. Salah satu pemandangan itu bisa kita saksikan di kawasan kebun teh, di ujung barat pedukuhan Nglinggo yang kemudian lebih populer disebut Kebun Teh Nglinggo.

Tak hanya puncak bukit tak bernama di sisi barat yang menyuguhkan panorama menawan. Masih ada dua puncak lain di sisi utara yang menyuguhkan indahnya pemandangan dari ketinggian. Keduanya merupakan puncak dari Gunung Kukusan yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Magelang, hanya beberapa ratus meter dari Kebun Teh Nglinggo. Puncak pertama yang lebih rendah dikenal dengan nama Puncak Dempok, sedangkan puncak yang lebih tinggi disebut sebagai Puncak Kendeng. Sama seperti Desa Nglinggo, Puncak Kendeng juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Sebuah petilasan berwujud batu yang terdapat di puncak ini dipercaya warga sebagai makam salah satu kerabat Pangeran Diponegoro bernama Pangeran Kendeng. Sehingga nama puncaknya pun serupa dengan nama sang pangeran.









Taman sungai mudal Di Kulonprogo


Berada tak jauh dari Kedung Pedut, terdapat sebuah taman sungai yang asri, Taman Sungai Mudal. Dipenuhi dengan berbagai macam tanaman termasuk bunga anggrek endemik yang langka, taman sungai ini tampak begitu mempesona. Selain dapat bersantai di gazebo-gazebo kecil yang ada, kita juga dapat berenang di kedung-kedungnya dan mencoba canyoning (dengan membawa peralatan sendiri) di air terjunnya yang bertingkat-tingkat. Jika ingin menikmati suasana taman sungai ini lebih lama lagi, dirikanlah tenda dan bermalamlah di sana. Ada camping area yang aman dengan fasilitas yang memadai. 

Taman sungai tuk mudal adalah sebuah taman sungai yang berupa air terjun dan kolam alami yang air nya berwarna biru bening. Sumber air taman sungai tuk mudal sendiri berasal dari mata air alami yang memancar dari sungai bawah tanah. Jadi bisa di pastikan bahwa air disini masih sangat jernih bening dan jauh dari polusi.


Taman sungai tuk mudal secara administratif berada di Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kec Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Lebih tepatnya berada di  barisan bukit menoreh. Jika kalianberada di jogja lihatlah ke arah  barat maka akan nampak pegunungan menoreh yang terbentang sepanjang Kulon progo. Rata-rata ketinggian perbukitan menoreh lebih dari 2000 mdpl.
Rute untuk ke taman sungai mudal dari kota jogja cukup mudah. Dari kota jogja langsung saja menuju ke jalan godean. Dari jalan godean lurus saja ke barat menuju arah kulon progo sekitar 30 kilometer. Nggak usah belok-belok karena jalan nya lurus terus nanti akan masuk ke kulon progo.